Uap yang Tidak Pernah Kembali

Tentang cangkir yang tidak tahu difoto, uap yang tidak akan kembali, dan pagi yang terus memaksa kita menyeduh ulang.

Uap yang Tidak Pernah Kembali

Uap panas membubung dari cangkir porselen putih bertatakan piring kecil. Garis-garis uap itu naik berkelok-kelok, menari sejenak di udara dingin, lalu lenyap tanpa jejak.

Setiap molekul uap yang hilang membawa serta sebagian dari kehangatan kopi. Begitu ia pergi, ia tidak akan pernah kembali ke cangkir yang sama. Kita meminum kopi bukan untuk menghentikan hilangnya panas, melainkan untuk merayakan saat-saat kehangatan itu masih ada.

Begitulah pagi hari menyapa kita: memberi kesempatan yang selalu baru namun selalu menguap dengan cepat, menuntut kita untuk hadir sepenuhnya sebelum hari menjadi dingin.