Secangkir espresso diletakkan di atas sehelai kain putih bertekstur lembut. Permukaan kopi itu keemasan, lingkaran crema yang sempurna menyimpan kepahitan dan kehangatan yang tertahan.
Kain putih tidak pernah menolak apa pun yang diletakkan di atasnya. Ia tidak mengeluh ketika tersenggol, tidak menghakimi jika noda tercecer, dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih. Ia ada hanya untuk menjadi latar yang membuat hal-hal lain tampak bernilai.
Di dunia yang riuh dengan orang-orang yang berebut panggung, betapa langkanya kesediaan untuk menjadi kain putih. Menjadi ruang yang lapang, yang membiarkan kehangatan orang lain bersandar tanpa perlu menegaskan keberadaan diri sendiri.



