Lampu meja kecil di atas nakas kayu memancarkan kerucut cahaya kuning yang lembut. Cahaya itu tidak cukup terang untuk membaca halaman buku yang rumit, namun terlalu nyata untuk membiarkan kelopak mata terpejam rapat.
Di jam-jam seperti ini, antara pukul dua dan empat dini hari, nakas menjadi stasiun pemberhentian bagi pikiran-pikiran yang tersesat. Gelas air setengah kosong, jam tangan yang dilepas, dan tanaman kecil dalam pot yang tampaknya bernapas lebih tenang dibanding pemilik kamar.
Ada malam-malam yang tidak bisa diselesaikan dengan tidur. Mereka menuntut untuk dinikmati dalam keheningan yang sedikit menyiksa, ditemani kerucut cahaya yang lupa dimatikan.



