Cahaya pagi membelah meja batu marmer dengan sudut yang tajam. Uap tipis meliuk dari cangkir putih, sementara bayangan cangkir jatuh memanjang ke sisi kanan—lebih gelap dan lebih tegas dibanding cangkir itu sendiri.
Marmer ini dingin, menyimpan jutaan tahun tekanan bumi dalam urat-urat batunya. Ia telah menyaksikan puluhan percakapan yang datang dan pergi, cangkir-cangkir kopi yang tandas, dan janji-janji yang tak pernah ditepati.
Namun ia tetap dingin, datar, dan tidak berpihak. Di hadapan marmer, kita menyadari betapa sementaranya keresahan yang kita bawa setiap pagi.



