Tumpukan yang Tidak Pernah Dibaca Kembali

Tentang buku yang tutup tapi tidak pergi, tanaman yang ikut diam, dan marmer yang tetap kokoh tanpa bicara.

Tumpukan yang Tidak Pernah Dibaca Kembali

Ada keheningan tersendiri yang mengendap di antara jilid-jilid buku yang tak lagi dibuka. Mereka tersusun di atas permukaan marmer, memikul pot keramik gelap berisi tanaman yang tumbuh perlahan—nyaris tanpa suara.

Kita sering membeli buku dengan optimisme bahwa suatu saat, waktu luang akan mengampuni kita. Namun waktu itu jarang tiba. Buku-buku itu akhirnya beralih fungsi dari jendela pengetahuan menjadi monumen niat baik yang membeku.

Tanaman di atasnya tidak peduli apakah bab terakhir berisi tragedi atau kemenangan. Akarnya hanya mengenal kelembapan tanah, daunnya hanya mengerti arah datangnya cahaya pagi. Dan marmer di bawahnya menerima seluruh beban itu tanpa sepatah kata pun keluhan.

Mungkin kesunyian bukanlah kekosongan, melainkan kesepakatan damai antara benda-benda yang saling menopang tanpa saling menuntut penjelasan.